Suara Gedix Atege di Kaset Pita Masih Hidup di Hati Rakyat

Doc: Gedix Atege

Oleh: Victor Yeimo

 

Deiyai, Kaganepai -- Gedix Atege dilahirkan di Madang, Papua New Guinea (PNG). Ia memulai kariernya bersama Band Wali Hits sebelum menapaki jalur solo. Album yang terpopuler hingga saat ini: Pepa Nating, School Fee Problem, Pain Blong Love, dan Salim Giraun. Lagu-lagunya seperti Taim Mi Skul Mangi, Mama, Corruption, dan ciptaan lagu lainnya, bukan sekedar hiburan tetapi cermin kehidupan bagi rakyat kecil tentang biaya sekolah yang menjerat, korupsi yang merusak, harapan anak-anak muda, dan kerinduan terdalam pada orang tuanya.

Gedix Atege akan konser di Paniai bagi banyak orang, terutama generasi saya itu sekedar hiburan. Tetapi bagi anak-anak era Tahun 90-an hingga 2000-an ini kepulangan suara lama yang sudah hidup di hati. Suara yang dulu hanya hadir dari kaset pita di radio, tetapi rusak di rumah atau acara disko di malam hari, kini hadir nyata di depan mata, terlepas dari siapa dan apa tujuan penyelenggara konser itu.

Dihadapan masyarakat PNG, Gedix dijuluki “Mr. Adviser” karena liriknya memberi nasihat, kritik sosial, dan pesan moral. Ia bukan penyanyi panggung glamor, tetapi penyair rakyat. Suara yang lahir dari tanah sehingga menyatu dengan penderitaan, kasih, dan kehidupan Melanesia. Ia melirik alunan musiknya berbicara dalam bahasa universal, seperti; luka, rindu, dan harapan yang bisa dirasakan siapapun. Meski kita hanya mengalami bahasa jiwa tanpa mengetahui arti syair lagunya.

Atege juga bagian dari arus besar musik Melanesia yang pengaruhi bangsa Papua bersama Lister Serum, Helgas Band, Saugas, Paramana, dan Basil Greg, dan sebagainya. Musiknya menjadi suara rakyat, menyuarakan realita sosial, menegur ketidakadilan, menghibur duka, sekaligus menyalakan semangat pembebasan. Mereka semua adalah saksi hidup perjalanan jiwa Melanesia yang menghadapi ketidakadilan, rinduh kebebasan, dan bertahan hidup dalam penderitaan.

Setiap kaset Gedix yang diputar di Tahun 90-an dan 2000-an, langsung bawa memori masa kecil duduk bersama orang tua yang kini sudah tiada, perjalanan jauh dengan sahabat yang hilang. Cinta pertama yang terlupakan, atau pengalaman sekolah/kuliah yang penuh perjuangan. Walaupun rakyat mungkin tidak mengerti arti lirik dalam bahasa Papua Nugini atau Tok Pisin, mereka akan tetap memahami bahasa jiwa yang keluar dari setiap getaran suaranya.

Ditengah operasi militer dan represi yang menimpa tanah Papua, musik Gedix bagi saya masih menjadi ruang penghiburan sekaligus alat perlawanan budaya. Lagu-lagunya mengingatkan kita untuk berpendidikan itu penting, keadilan harus ditegakkan, dan suara rakyat tidak boleh dibungkam.

Konser di Paniai ini bukan sekedar panggung musik tetapi juga bisa dijadikan altar rakyat, tempat duka, kerinduan, dan harapan bertemu suaranya. Suara itu akan terus hidup menjadi bagian dari sejarah penghibur duka, penguat semangat, dan simbol perjuangan rakyat Papua. Karena suara Gedix bukan sekedar kata, melainkan bahasa jiwa. Bahasa yang bergetar dalam sunyi malam, bahasa yang mengalir dalam air mata kerinduan, bahasa yang menyatukan rasa sakit dan cinta menjadi satu, dari dulu hingga sekarang.


Editor: Admin Kaganepai


Tidak ada komentar